Minggu, 14 November 2010

Apa itu Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.

Penyebab autisme
adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.

Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.

Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).

Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).


Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1  

sumber artikel dari autis.info 

Sabtu, 13 November 2010

Autism checklist DSM-IV

Autism symptoms checklist from the DSM-IV

(Diagnostic and statistical manual of mental disorders).

A) A total of six (or more) items from (1), (2) and (3), with at least two from (1) and one from (2) and (3).

(1) Qualitative impairment in social interaction, as manifested by at least two of the following:

a) Marked impairments in the use of multiple non-verbal behaviors such as eye-to-eye gaze, facial expression, body posture and gestures to regulate social interaction.

b) Failure to develop peer relationships appropriate to developmental level.

c) A lack of spontaneous seeking to share enjoyment, interests or achievements with other people (e.g. by a lack of showing, bringing or pointing out objects of interest to other people).

d) Lack of social or emotional reciprocity (note: in the description, it gives the following as examples: not actively participating in simple social play or games, preferring solitary activities or involving others in activities only as tools or "mechanical" aids).

(2) Qualitative impairments in communication as manifested by at least one of the following:

a) Delay in, or total lack of, the development of spoken language (not accompanied by an attempt to compensate through alternative modes of communication such as gesture or mime).

b) In individuals with adequate speech, marked impairment in the ability to initiate or sustain a conversation with others.

c) Stereotyped and repetitive use of language or idiosyncratic language.

d) Lack of varied, spontaneous make- believe play or social initiative play appropriate to developmental level.

(3) Restricted repetitive and stereotyped patterns of behavior, interests and activities, as manifested by at least two of the following:

a) Encompassing preoccupation with one or more stereotyped and restricted patterns of interest that is abnormal either in intensity or focus.

b) Apparently inflexible adherence to specific, non-functional routines or rituals.

c) Stereotyped and repetitive motor mannerisms (e.g. hand or finger flapping or twisting or complex whole body movements).

d) Persistent preoccupation with parts of objects.

B) Delays or abnormal functioning in at least one of the following areas, with onset prior to age 3 years:

(1) Social interaction

(2) Language as used in social communication

(3) Symbolic or imaginative play

C) The disturbance is not better accounted for by Rett’s disorder or Childhood Disintegrative disorder.

Asperger

Sindrom Asperger atau Gangguan Asperger (SA) merupakan suatu gejala kelainan perkembangan syaraf otak yang namanya diambil dari seorang dokter berkebangsaan Austria, Hans Asperger, yang pada tahun 1944 menerbitkan sebuah makalah yang menjelaskan mengenai pola perilaku dari beberapa anak laki-laki memiliki tingkat intelegensi dan perkembangan bahasa yang normal, namun juga memperlihatkan perilaku yang mirip autisme, serta mengalami kekurangan dalam hubungan sosial dan kecakapan komunikasi. Walaupun makalahnya itu telah dipublikasikan sejak tahun 1940-an, namun Sindrom Asperger baru dimasukkan ke dalam katergori DSM IV pada tahun 1994 dan baru beberapa tahun terakhir Sindrom Asperger tersebut dikenal oleh para ahli dan orang tua.

Seseorang penyandang SA dapat memperlihatkan bermacam-macam karakter dan gangguan tersebut. Seseorang penyandang SA dapat memperlihatkan kekurangan dalam bersosialisasi, mengalami kesulitan jika terjadi perubahan, dan selalu melakukan hal-hal yang sama berulang ulang. Sering mereka terobsesi oleh rutinitas dan menyibukkan diri dengan sesuatu aktivitas yang menarik perhatian mereka. Mereka selalu mengalami kesulitan dalam membaca aba-aba (bahasa tubuh) dan seringkali seseorang penyandang SA mengalami kesulitan dalam menentukan dengan baik posisi badan dalam ruang (orientasi ruang dan bentuk).

Karena memiliki perasaan terlalu sensitif yang berlebihan terhadap suara, rasa, penciuman dan penglihatan, mereka lebih menyukai pakaian yang lembut, makanan tertentu dan merasa terganggu oleh suatu keributan atau penerangan lampu yang mana orang normal tidak dapat mendengar atau melihatnya. Penting untuk diperhatikan bahwa penyandang SA memandang dunia dengan cara yang berlainan. Sebab itu, banyak perilaku yang aneh dan luar biasa yang disebabkan oleh perbedaan neurobiologi tersebut, bukan karena sengaja berlaku kasar atau berlaku tidak sopan, dan yang lebih penting lagi, adalah bukan dikarenakan 'hasil didikan orang tua yang tidak benar'.

Menurut definisi, penyandang SA mempunyai IQ.normal dan banyak dari mereka (walaupun tidak semua) memperlihatkan pengecualian dalam keterampilan atau bakat di bidang tertentu. Karena mereka memiliki fungsionalitas tingkat tinggi serta bersifat naif, maka mereka dianggap eksentrik, aneh dan mudah dijadikan bahan untuk ejekan dan sering dipaksa temanya untuk berbuat sesuatu yang tidak senonoh. Walaupun perkembangan bahasa mereka kelihatannya normal, namun penyandang SA sering tidak pragmatis dan prosodi. Perbendaharaan kata-kata mereka kadang sangat kaya dan beberapa anak sering dianggap sebagai 'profesor kecil'. Namun mereka dapat menguasai literatur tapi sulit menggunakan bahasa dalam konteks sosial.

Sifat-sifat dalam belajar dan berperilaku pada murid penyandang Asperger antara lain:

  1. Sindrom Asperger merupakan suatu sifat khusus yang ditandai dengan kelemahan kualitatif dalam berinteraksi sosial. Sesorang penyandang Sindrom Asperger (SA) dapat bergaul dengan orang lain, namun dia tidak mempunyai keahlian berkomunikasi dan mereka akan mendekati orang lain dengan cara yang ganjil (Klin & Volkmar, 1997). Mereka sering tidak mengerti akan kebiasaan sosial yang ada dan secara sosial akan tampak aneh, sulit ber-empati, dan salah menginterpretasikan gerakan-gerakan. Pengidap SA sulit dalam berlajar bersosialisasi serta memerlukan suatu instruksi yang jelas untuk dapat bersosialisasi.
  2. Walaupun anak-anak penyandang SA biasanya berbicara lancar saat mencapai usia lima tahun, namun mereka sering mempunyai masalah dalam menggunakan bahasa dalam konteks sosial ( pragmatik ) dan tidak mampu mengenali sebuah kata yang memiliki arti yang berbeda-beda (semantic) serta khas dalam berbicara /prosodi (tinggi rendahnya suara, serta tekanan dalam berbicara) (Attwood, 1998). Murid penyandang SA bisa jadi memiliki perbendaharaan kata-kata yang lebih, dan sering tak henti-hentinya berbicara mengenai suatu subyek yang ia sukai. Topik pembicaraan sering dijelaskan secara sempit dan orang itu mengalami kesulitan untuk berpindah ke topik lain. Mereka dapat merasa sulit berbicara teratur. penyandang SA dapat memotong pembicaraan orang lain atau membicarakan ulang pembicaraan orang lain, atau memberikan komentar yang tidak relevan serta mengalami kesulitan dalam memulai dan mengakhiri suatu pembicaraan. Cara berbicaranya kurang bervariasi dalam hal tinggi rendahnya suara, tekanan dan irama, dan, bila murid tersebut telah mencapai usia lebih dewasa, cara berbicaranya sering terlalu formal. Kesulitan dalam berkomunikasi sosial dapat terlihat dari cara berdiri yang terlalu dekat dengan orang lain, memandang lama, postur tubuh yang tidak normal, dan tak dapat memahami gerakan-gerakan dan ekspresi wajah.
  3. Murid penyandang SA memiliki kemampuan intelegensi normal sampai di atas rata-rata, dan terlihat berkemampuan tinggi. Kebanyakan dari mereka cakap dalam memperdalam ilmu pengetahuan dan sangat menguasai subyek yang mereka sukai pernah pelajari. Namun mereka lemah dalam hal pengertian dan pemikiran abstrak, juga dalam pengenalan sosial. Sebagai akibatnya, mereka mengalami kesulitan akademis, khususnya dalam kemampuan membaca dan mengerti apa yang dibaca, menyelesaikan masalah, kecakapan berorganisasi, pengembangan konsep, membuat kesimpulan dan menilai. Ditambah pula, mereka sering kesulitan untuk bersikap lebih fleksibel. Pemikiran mereka cenderung lebih kaku. Mereka juga sering kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan, atau menerima kegagalan yang dialaminya, serta tidak siap belajar dari kesalahan-kesalahanya. (Attwood 1998).
  4. Diperkirakan bahwa 50% - 90% dari penyandang SA mempunyai kesulitan dalam koordinasi motoriknya (Attwood 1998). Motorik yang terkena dalam hal melakukan gerakan yang berpindah-pindah (locomotion), kecakapan bermain bola, keseimbangan, cakap menggerakan sesuatu dengan tangan, menulis dengan tangan, gerak cepat, persendian lemah, irama serta daya mengikuti gerakan-gerakan.
  5. Seorang penyandang SA memiliki kesamaan sifat dengan penyandang autisme yaitu dalam menanggapi rangsangan sensori. Mereka bisa menjadi hiper sensitif terhadap beberapa rangsangan tertentu dan akan terikat pada suatu perilaku yang tidak biasa dalam memperoleh suatu rangsangan sensori yang khusus.
  6. Seorang penyandang SA biasanya kelihatan seperti tidak memperhatikan lawan bicara, mudah terganggu konsentrasinya dan dapat / pernah dikategorikan sebagai penyandang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) sewaktu di-diagnosa dalam masa kehidupan mereka (Myles & Simpson, 1998).

Rasa takut yang berlebihan juga merupakan salah satu sifat yang dihubungkan dengan penyandang SA. Mereka akan sulit belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan bersosialisasi di sekolah. Instruksi yang baik dan benar akan membantu meringankan tekanan-tekanan yang dialaminya.

Situs Lokal Photoshop dengan Pen tool

Pen tool merupakan tool dasar yang menurut saya wajib di kuasai pengguna photoshop dan sofware desain lainnya, karena dengan menguasai pen tool kita bisa melakukan hal-hal yang menarik, dan karena setiap saya membuat tutorial photoshop saya selalu menggunakan pen tool ini.

Saya tidak akan memberikan tutorial photoshop mengenai pen tool, dikarenakan sudah banyak situs-situs desain yang menjelaskan secara detail penggunaannya.

Saya mengerti kadang kala ada yang malas mencarinya di google dan malas kalau mengikuti tutorial photoshop yang berbahasa inggris, walaupun seperti itu sebaiknya ya jangan juga seperti itu. Mengikuti tutorial berbahasa inggris tidaklah sesulit seperti yang di bayangkan.

Namun jika pun anda ingin mendapatkan tutorial dalam berbahasa indonesia, saya menemukan beberapa situs lokal yang cukup jelas penjelasan mengenai pentool ini.

Berikut situs-situs yang bisa kalian jelajahi.

1. Cara menggunakan pen tool pada photoshop

http://lh3.ggpht.com/_GMjfiEXSSQY/TNirE9SP-oI/AAAAAAAAA3A/JX_DgoI5FVA/s128/ahli-desain.png

Pada situs ini akan di jelaskan cara pengunaan pen tool, cukup lengkap untuk pelajari.

2. Cara pembuatan shape dengan pen tools

http://lh3.ggpht.com/_GMjfiEXSSQY/TNirFGyyM7I/AAAAAAAAA3I/j3Fo-nLTKPk/mbah%20dewo.jpg

Membuat shape pada photoshop juga sangatlah berguna untuk di pelajari, di situs ini di jelaskan bagaimana membuat shape dengan pen tool.

3. Tutorial menggunakan pen tool pada photoshop

http://lh6.ggpht.com/_GMjfiEXSSQY/TNirFANt4jI/AAAAAAAAA3M/s7aDmlI-BFI/painthink.jpg

Di situs ini juga di jelaskan bagaimana penggunaan pen tool secara lengkap.

4. Teknik cropping image menggunakan pen tool

http://lh4.ggpht.com/_GMjfiEXSSQY/TNirFFJjTII/AAAAAAAAA3E/_h74T-uYL2Q/dkv%20binus.jpg

Teknik memotong gambar agar rapi menggunakan pen tool, wajib di pelajari nih.

5.Tutorial: Pen Tools pada Adobe Photoshop

http://lh3.ggpht.com/_GMjfiEXSSQY/TNir_fi9_bI/AAAAAAAAA3s/orWdxE40Hjs/luman.jpg

tutorial dasar pen tool

Situs yang menjelaskan bagaimana menggunakan pen tool, penjelasannya juga cukup jelas.

6. Seleksi dengan pen tool

http://lh3.ggpht.com/_GMjfiEXSSQY/TNirFIUy0zI/AAAAAAAAA3Q/fCswipiUUFg/yuscomic.jpg

Menseleksi gambar dalam photoshop sering di lakukan, berikut cara menseleksi gambar mengunakan pen tool.

Mungkin beberapa situs di atas bisa membantu teman-teman untuk bisa menguasai pen tool, Munkin ada situs lain yang menurut anda bisa di masukkan ke list ini, silahkan sharing di kotak komentar, ntar di masukan ke list.

Dan bagi teman-teman yang ingin mencari referensi lain, bisa cari saja di search engine dengan kata kunci “menggunaka pen tool ”

Nah semoga dengan bisa menguasai pen tool akan memepermudah mengikuti tutorial photoshop yang ada, sampai di sini aja postingan kali ini.

Semoga bermanfaat.

Salam narsis

Jumat, 12 November 2010

Anak Sulit Berbicara????

HUDA PERPUS1. PERKEMBANGAN OTOT YANG LAMBAN

Perkembangan otot yang lambat membuat anak sangat sulit untuk melakukan gerakkan yang cepat yang dibutuhkan untuk berbicara. kurang lebih 90% anak mengalami otot-otot tubuh terutama pada bagian otot bagian leher sehingga menyebabkan anak sulit membuat gerakan yang di butuhkan dalam proses berbicara.

karena otot yang belum cukup kuat maka dibutuhkan terapi sensorik integrasi pada si anak. meskipun kita telah memberikan terapi siang malam atau suara kita sampai jebol anak tidak dapat memproduksi suara dikarenakan otot yang belum cukup matang dan kuat untuk membuat gerakkan dalam bicara

2. ANAK JARANG BERINTERAKSI DENGAN ORANG LAIN

Beberapa orang tua yang tinggal di tempat elit atau kondominium yang orang lain masuk membutuhkan ijin yang panjang untuk memasukinya. dengan situasi tersebut orang tua cenderung untuk memproteksi anak mereka untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga anak yang seharusnya banyak beriteraksi dengan orang lain menjadi berkurang

atau bisa juga anak yang memiliki orang tua yang sangat sibuk dan hanya tinggal dengan pembatu dirumah cenderung melakukan interaksi sosial dengan bahasa tulisan entah itu chatting atau sms.

3. BAHASA NON VERBAL BERKEMBANG DULUAN

Ada beberapa keluarga lebih mendahulukan gaya bicara dengan gesture atau gerakkan tubuh saja sehingga otot bicara pada anak jarang digunakan. hal ini menyebabkan kekakuan pada otot bicara pada anak

4. HARAPAN DARI KELUARGA ATAU YANG LAIN RENDAH

Beberapa orang tua jarang sekali berbicara dengan anak karena orang tua lebih menekankan bahwa semua perkataan orang tua harus didengarkan dan tidak boleh membantah. ini menyebabkan anak malas ngomong karena merasa hal tersebut tidak diperbolehkan ketika orang tua mereka berbicara

5. TIDAK BANYAK WAKTU UNTUK BICARA

Orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka cenderung untuk membelikan anak mainan yang banyak yang bisa menghibur mereka dikala kedua orang tua sedang bekerja. sehingga membuat anak malas untuk berbicara karena sibuk akan mainannya sendiri dan acuh terhadap lingkungan

6. Stimulasi yang berlebihan garis miring OVERSTIMULATION

Banyak anak yang menginginkan anak menjadi superkids sebelum umurnya. orang tua cenderung mengkarbit anak mereka sehingga anak diberikan stimulus yang berlebihan sehingga mereka bisa dianggap sebagai anak super karena bisa mengerjakan segala hal yang diberikan padahal anak seusia mereka belum bisa melakukan hal itu

7. Menggunakan lebih dari satu bahasa

Banyak orang tua berkomunikasi dengan anak mereka menggunakan lebih dari satu bahasa. sebagai contoh orang tua biasa berbicara dengan bahasa jawa terkadang mengajak anak juga berbicara dalam bahasa jawa juga tetapi di lain sisi si ayah ingin anak nya bisa berbicara bahasa inggris belum lagi anak diharuskan memahami bahasa Ibu bahasa Indonesia. hal ini juga dapat membuat anak bingung cara mengkoordinasikan syarf dalam otak mereka sehingga anak cenderung diam karena tidak mengetahui bahasa mana yang seharusnya di ucapkan.

Kamis, 11 November 2010

Diet untuk Anak Autisme

Seperti yang kita ketahui  gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh diet untuk  anak autisme.

  1. Diet tanpa gluten dan tanpa kasein.
  2. Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga “rumput” seperti
    gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang
    Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten.

    Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya.

  3. Diet anti-yeast/ragi/jamur. Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast
  4. Diet untuk alergi dan inteloransi makanan.
  5. Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan, pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus
    dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.

Beberapa jenis pangan yang dianjurkan yaitu

Sayur
1. kacang panjang
2. brokoli
3. wortel
4. asparagus
5. bayam
6. daun katuk

Kacang-kacangan
1. kacang panjang
2. kapri
3. kacang polong
4. kacang tanah
5. kacang kedelai
6. kacang hijau

Biji-bijian
1. beras putih
2. beras merah
3. beras ketan
4. oat

Bahan pangan yang tidak dianjurkan yaitu

Susu Hewan
Es krim
Yoghurt
Coklat
Keju
Hopjes
SKM Butter


Pangan dengan Glutein
Roti
Mie
Spaghetti
Tart
Cake
Biskuit

Junk food
Sosis
Bakso
Soft drink
Seafood

Menulis Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

DSC00045

Bagi sebagian anak yang berkebutuhan khusus merupakan hal yang sangat sulit, karena dalam kegiatan tulis menulis memmerlukan koordinasi dari beberapa otot serta memerlukan koordinasi otak yang cukup banyak.

Dalam mengajarkan menulis kepada anak yang berkebutuhan khusus sebaiknya tidak dipaksakan karena jika dipaksakan anak akan mengalami stress dan merasa tertekan. karena pada dasarnya anak yang berkebutuhan khusus yang tidak mengalami gangguan dalam hal mendengar bisa mendengarkan perintah kita, oleh karena adanya gangguan dalam sistem koordinasi di otak yang menyebabkan anak berkebutuhan khusus lambat dalam merespon perintah kita

Mengajarkan menulis pada anak banyak cara yang bisa ditempuh yaitu:

  1. Menggunakan metode pasir yaitu anak diajak untuk menuliskan sebuah huruf di atas pasir kemudian terapis melabelkan huruf apa yang sedang ditulis. Cara ini bisa menggunakan pena atau jari anak
  2. Mengunaka metode Amplas yaitu sebuah kertas yang biasa digunakan oleh tukang bangunan untuk menghaluskan bahan bangunan. Cara ini sangat efektif bagi anak yang memang sulit untuk membayangkan huruf yang sedang ditulis. Anak diarahkan untuk menggunakan jari mereka sehingga ujung jari mereka merasakan gerakakan yang di prompt oleh terapis sehingga reseptor pada jari bisa menggirimkan sinyal kepada otak dari apa yang sedang dirasakan.

masih banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua dan terapis. Dan dua cara tersebut di atas sudah saya lakukan sendiri untuk beberapa anak dan memberikan efek yang signifikan terhadap perkembangan anak dalam hal menulis